Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

Rabu, 21 Oktober 2020

Mari Belajar Majas -Bersama Bu Aning

 

MAJAS, UNGKAPAN, DAN PERIBAHASA

Bersama Ibu Aning S 

A.                     MAJAS

 Majas (Figurative language) adalah bahasa kias, bahasa yang dipergunakan untuk menciptakan efek tertentu.majas merupakan bentuk retoris, yang penggunaannya antara lain untuk menimbulkan kesan imajinatif bagi penyimak atau pembacanya. Pada zaman Yunani dan Romawi, majas merupakan hal penting yang harus dikuasai oleh seorang orator (ahli pidato) Dengan majas itulah, seorang orator dapat mempengaruhi para pendengarnya.

      Dalam pembendaharaan bahasa Indonesia, dikenal berbagai jenis majas. Majas-majas tersebut terbagi ke dalam majas perbandingan, pertentangan, pertautan, dan perulangan.

 

1.Majas Perbadingan

    Majas perbandingan meliputi personifikasi, metapora, perumpamaan, dan alegori.

  a. Asosiasi (simile), adalah perbandingan dua hal yang pada hakikatnya berbeda, tetapi

     sengaja dianggap sama. Majas ini ditandai oleh penggunaan kata bagai ,bagaikan

     seumpama, seperti

Contoh:

- Semangatnya keras bagaikan baja

- Wajahnya bagai bulan purnama   

- Hatinya sedih seperti diiris sembilu.

- Mukanya pucat bagai mayat

- Wajahnya suram seperti tempurung dibelah dua

 

  b. Metapora adalah majas perbandingan yang diungkapkan dengan secara singkat dan  

       padat.

      Contoh:

- Dia dianggap anak emas majikanya.

- Perpustakaan adalah gudang ilmu.

- Raja siang keluar dari ufuk timur.

      c.  Personifikasi, adalah majas yang membandingkan benda-benda tidak bernyawa seolah 

            – olah  memiliki sifat seperti manusia.

Contoh:

- Badai mengamuk dan merobohkan rumah penduduk.

- Daun kelapa melambai-lambai di tepi pantai.

- Awan hitam menebal diiringi hallilintar bersahut-sahutan.

- Bel sekolah memanggil-manggil para siswa untuk masuk ruangan.

      d. Alegori, adalah majas yang bertautan satu dengan yang lainnya dalam kesatuan yang   

          utuh.

Contoh:

Hati-hatilah kamu dalam mendayung bahtera rumah tangga, mengarungi lautan kehidupan yang penuh dengan badai dan gelombang. Apabila suami-istri, antara nahkoda dan juru mudinya itu seia sekata dalam melayarkan bahteranya, niscaya ia akan sampai ke pulau tujuan.

 

2.Majas Pertentangan

Majas pertentangan, antara lain meliputi hiperbola,litotes,ironi,sinisme,dan oksimoron.

   a. Hiperbola, adalah majas yang mengandung pernyataan yang berlebih-lebihan dengan

       maksud untuk memperhebat,meningkatkan kesan,dan daya pengaruh.

Contoh:

- Saya terkejut setengah mati mendengar perkataanya.

- Tubuhnya kurus kering setelah ditinggalkan oleh ayahnya.

- Pekik merdeka berkumandang di angkasa.

- Cita –cita anak itu selalu melangit.

 

 

   b. Litotes, adalah majas yang ditunjukan untuk mengurangi atau mengecil-ngecilkan

       kenyataan sebenarnya.Tujuannya antara lain untuk merendahkan diri.

  Contoh:

- Kami berharap Anda dapat menerima pemberiaan yang tidak berharga ini.

-  Gajiku tak seberapa, hanya cukup untuk makan anak dan istri.

-  Pertolongan apakah yang saudara harapkan dari saya yang lemah dan bodoh ini.

-  Terimalah bingkisanku yang tidak berarti ini.

 c. Ironi, adalah majas yang menyatakan makna yang bertentangan dengan maksud untuk

     menyindir atau memperolok-olok

Contoh:

- Bagus sekali rapormu,Andi.Banyak benar angka merahnya.

- Rajin sekali kamu,lima hari kamu tidak masuk sekolah. 

 d.  Sinisme, adalah majas yang menyatakan sindiran secara langsung.

Contoh:

      -  Perkataanmu tadi sangat menyebalkan.

    Kata-kata itu tidak pantas disampaikan orang   terpelajar seperti kamu!

            -  Bisa-bisa aku jadi gila melihat kelakuanmu itu!

 e. Oksimoron, adalah majas yang antarbagian-bagianya menyatakan sesuatu yang

     bertentangan.

      -  Nuklir dapat menjadi pemusnah masal, tetapi juga dapat mensejahterakan

   kehidupan umat manusia.

      -  Yang tetap dalam dunia ini adalah perubahan.

 

3. Majas Pertautan

    Majas pertautan antara lain meliputi metonimia, sinekdok, alusi, eufinisme, elipsis, dan  

    inversi.

   a. Metonimia adalah majas yang memakai nama ciri atau nama hal yang ditautkan dengan 

nama orang ,barang, hal lainnya sebagai penggantinya.kita dapat menyebutkan pencipta  atau pembuatnya yang kita maksudkan adalah ciptaan atau buatan. Bisa pula kita menyebutkan bahan dari barang yang dimaksud.

-          Para siswa di sekolah kami senang sekali membaca Ali Syahbana.

-          Kelas 3 mendapatkan perak dalam perlombaan lari maraton.

   b. Sinekdok adalah majas yang menyebutkan nama bagian sebagai pengganti nama   

        keseluruhannya atau sebaliknya.

       Majas ini terbagi ke dalam dua jenis.

       1. Pars pro toto sebagian untuk keseluruhan.

            Maksudnya kalau yang disebutkan sebagian dari suatu benda, maka yang dimaksudkan

            adalah benda itu secara keseluruhan.

-                      Paman saya punya atap di Jakarta.

-                      Sampai sore ini belum kelihatan batang hidungnya.

2.Totem pro parte seluruhnya untuk sebagian.

Maksudnya dengan menyebutkan keseluruhan, maka yang dimaksud hanya sebagian saja.

-                      Indonesia meraih medali emas dalam kejuaraan itu.

-                      Sekolah kami meraih juara dalam pertandingan bola volley.

     c. Alusi adalah majas yang menunjukkan secara tidak langsung pada suatu tokoh atau    

         peristiwa yang sudah diketahui bersama.

-                      Banyak korban berjatuhan karena kekejaman Nazi

-                      Apakah setiap guru bernasib seperti Umar Bakri.

     d. Elipsis adalah majas yang di dalamnya terdapat penghilangan kata atau bagian kalimat.

-                      Dia dan ibunya ke Solo ( menghilangkan Predikatnya)

-                      Lari! (penghilangan subjek kamu)

 

     e. Inversi adalah majas yang dinyatakan oleh pengubahan susunan kalimat.

   -         Paman saya wartawan----------wartawan, paman saya

             -         Dia datang ----------------- Datang dia

4. Majas Penegasan / Perulangan

     Majas perulangan terdiri atas pleonasme, klimaks, antiklimaks, retoris, aliterasi,

     antanaklasis, repetisi, paralelisme, dan kiamus.

 a. Pleonasme adalah majas yang menggunakan kata-kata secara berlebihan dengan maksud      

     untuk menegaskan arti suatu kata.

-          Mereka turun ke bawah. Menengadah ke atas, mata kepalaku.

-          Naik meninggi, turun ke bawah.

 b. Klimaks adalah majas yang menyatakan beberapa hal berturut-turut yang makin lama  

    makin menghebat.

-          Dari kendaraan bermotor sampai ke mobil; dari kepala keluarga, ketua RT, ketua RW, kepala desa, dsb menghadiri rapat desa.

-          Aceh merintih, menangis, dan meronta.

c. Antiklimaks adalah majas yang menyatakan beberapa hal berturut-turut yang makin lama

    makin menurun ( melemah).

-          Bapak kepala sekolah, guru, dan murid mengikuti upacara.

-          Jangankan baju, nasi, bahkan sesuap nasi pun tak mampu dibelinya.

d.  Retoris adalah yang berupa kalimat tanya yang jawabannya itu sudah diketahui penanya.

    Tujuannya untuk memberikan penegasan pada maslh yang diuraikannya, untuk 

     meyakinkan, ataupun sebagai sindiran.

    -  Siapa yang tidak ingin hidup bahagia ?

e. Aliterasi adalah majas yang memanfaatkan kata-kata yang bunyi awalnya sama.

-          Dara, damba, daku, datang, dari danau.

f.  Antanaklasis adalah majas yang mengandung ulangan kata yang sama dengan makna kata

     yang berbeda. 

-          Karena buah penanya, maka dia menjadi buah bibir.

g.  Repetisi adalah majas perulangan kata-kata sebagai penegasan.

-          Selamat datang, pahlawanku, selamat datang pujaanku, selamat datang bunga bangsaku.

h.  Paralelisme adalah majas perulangan sebagaimana halnya repetisi, hanya disusun dalam 

     baris yang berbeda. Biasanya terdapat dalam puisi.

-          Sunyi itu duka, sunyi itu melumat bahagiaku, sunyi itu menepis lukaku, sunyi itu .

 

B.  UNGKAPAN / IDIOM

Ungkapan atau idiom perkataan atau kelompok kata yang khusus untuk menyatakan sesuatu maksud dalam arti kiasan. Ungkapan terbentuk dari kata-kata yang polanya terbentuk secara tetap, kata-kata itu tidak bisa diubah-ubah susunannya dan tidak bisa pula disisipi dengan kata lain. Makna dari masing-masing kata itu melebur membentuk makna baru.

 

Ungkapan

Makna

Buah ratap

Buah baju

Buah dada

Buah tangan

Buah pikiran

Buah bibir

Buah pena

Buah hati

Buah pinggang

Isi ratapan

Kancing

Susu, tetek

Oleh-oleh, hasil karya

Pendapat

Bahan percakapan

Karangan

Kekasih

Ginjal

 

C. PERIBAHASA

Peribahasa adalah kalimat atau perkataan yang tetap susunannya dan biasanya mengiaskan maksud tertentu. Dari definisi tersebut, dapat dirumuskan ciri-ciri peribahasa adalah sebagai berikut:

1. Merupakan kalimat atau perkataan yang tetap susunannya.

 

Kelompok kata terbilang dari esa, mengaji dari alif, tidak bisa diubah, misalnya menjadi terbilang dari satu, mengaji mulai dari huruf alif atau menghitung dari angka satu.

Walau maknanya sama atau hampir sama, tetapi dengan perubahan-perubahan semacama itu, makna konotasi kalimat itu berubah pula.  Kedua contoh kalimat di atas tidak layak di sebut peribahasa.

 

 

 2. Mengandung Makna kias

Makna yang terkandung dalam peribahasa bukanlah makna yang sebenarnya, melainkan makna kias atau makan konotatif. Untuk menyatakan orang yang tidak mempunyai pendirian dapat mengiaaskan atau membandingkannya dengan sifat-sifat air yang ada di daun talas. Air sesuai dengan kemiringan daun itu. Sifat itulah yang kemudian disamakan dengan sifst orang yang tidak memiliki pendirian.

 

 

Peribahasa

Makna

1.Menerka ayam di dalam telor

 

2. Ayam dapat, musang pun dapat

 

3. Tangan mencencang, bahu memikul

 

4. Mencabik baju di dada

 

5. Ada uang, ada barang

 

6. Berjalan sampai ke batas, berlayar

     sampai ke pulau

7. Bau busuk tidak berbangkai

8. Bayang-bayang sepanjang badan,

    selimut sepanjang badan

9. Menjual bedil kepada lawan

10 Balik belakang lain bicara

 

1) Memastikan sesuatu yang tidak mungkin

    dapat ditentukan

2) Berhasil menangkap pencuri berikut

    dengan barang buktinya.

3) Siapa yang berbuat dia yang bertanggung

    jawab.

4) Menceritakan aib sendiri kepada orang

    lain

5) Bila memiliki uang banyak, maka akan

    mendapatkan barang yang lebih baik.

6) Segala sesuatu hendaknya sampai kepada

    maksudnya.

7) Fitnah yang tidak terbukti kebenarannya.

8) Bijaksana dalam memberikan perintah,

    sesuai dengan yang diperintahkan.

9) Menyusahkan diri sendiri

10) Merugikan teman sendiri, munafik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1 komentar:

Post Top Ad

Your Ad Spot